Informasi ini kuteruskan ke Sherly yang tidak mengerti sama sekali perkataan si Kumis.Dengan enggan kami membalik badan kami menghadap tembok. Bokeb Kami berdua berdiri hanya dengan pakaian dalam kami.Si Kumis berkata sesuatu yang sama sekali tidak dapat kumengerti. Tak ada ekspresi yang berubah dari wajah Sherly.Sejak tadi ekspresi yang terlihat hanyalah ekspresi kecemasan. Koper kami dilemparkan dengan kasar ke atas meja di pinggir. Tangan pria itu (sebut saja si Kumis) mengeluarkan satu kantong berisi bubuk hitam dari dalam koper.What is this? Aku merasa cemas akan semua ini. Telapak tangan kami ditempelkan di tembok (cermin) di depan kami dan kaki kami





